Sejak pulang tiga bulan lalu: prologue

Hari ini Jumat pukul 3.16 pm. Meskipun jam di monitor laptop gue mengindikasikan sekarang masih 3:14 am – Eastern Standard Times (EST). Sudah tiga bulan lebih sejak gue pulang dari sekolah di Amerika, tapi sampai saat ini gue belum menyesuaikan laptop ke waktu Indonesia.

“Anna Maria kan di US, ini biar gampang kalau mau janjian telponan sama doi.”

Itu alasan yang gue berikan pada diri sendiri. Anna Maria adalah classmate di Darden School of Business yang jadi partner bisnis coklat gue, Kartini Chocolate, sejak bulan Maret 2018. Yang lucu adalah, Anna berdomisili di San Fransisco, dia bahkan enggak di zona waktu EST. Dan bahkan dengan ke-tidak-masuk-akal-an ini, gue tetap enggan mengganti pengaturan laptop saya.

Anyway, saat ini gue lagi duduk di sebuah kedai kopi di Cikini. Di samping gue ada jendela kaca besar dengan tulisan “tjikini, sedap rasa segala” yang menghadap ke jalan raya – well, menghadap trotoar dan parkiran sih. Di depan gue ada meja kayu bundar yang menadahi laptop, dua buah telepon genggam, secangkir kopi lintong, sebotol gula, dan mangkuk bubur kacang hijau yang sudah kosong. Ada dua kursi kosong di meja ini. Dari sini terdengar bunyi coffee machine, dentingan kasir, operan pesanan pada barista, obrolan pelanggan di meja sebelah, dan ahh… ada lagu Sampai Jadi Debu dari Banda Neira dan Gardika Gigih diputar. Suasananya sangat mendukung untuk menulis apa-apa yang perlu ditulis. Tentu saja langit sore ini juga mendung.

Ijinkan gue menghela napas panjang sejenak sebelum melanjutkan cerita gue. Jangan ikut menghela napas, nanti lo jadi merasa ada beban berat yang tiba-tiba diletakkan di pundak lo. Jangan.

Oke gue kembali. Mungkin lo sekarang udah bertanya-tanya: “Gea kenapa lagi sih? Mau ngeluh apa lagi?” Sayangnya gue gak punya jawabannya, atau jawabannya terlalu kompleks untuk disimpulkan jadi satu kalimat. Mungkin di akhir cerita ini kita akan bisa sama-sama menyimpulkan Gea kenapa, atau menyimpulkan bahwa ini hanya sebuah fase dan Gea enggak kenapa-kenapa.

Gue akan mencoba mempermudah ini bagi pembaca yang budiman (juga bagi gue sendiri) dengan memberikan satu titik referensi: sejak pulang tiga bulan lalu. Why this time reference? Cause within this seemingly short period of time, a lot happened.

Jangan buang-buang makanan

Ceritanya gue abis makan siang di rumah dan lagi mau cuci piring. Sebenernya di mangkuk gue masih ada serpihan tahu, paprika, dan kuah sichuan, tapi gue pikir “kenyang ah, lagian gak suka paprika juga”. Saat gue lagi buang sisa makanan tersebut, gue tiba-tiba inget nasihat temen lama gue tentang gak buang-buang makanan. Gue sering denger nasihat tentang gak buang-buang makanan dari temen ataupun keluarga, tapi nasihat temen gue ini gak bakal gue lupa.

*****

Waktu itu gue dan temen lama gue, yang udah gue kenal semenjak sekolah dasar, ini lagi ketemuan buat ngobrolin proyek website fotografinya dia. Gue inget banget gue pikir enak banget kalo bisa kerja sesuai kesukaan dan dapet duit banyak kaya temen gue. Entah kenapa gue gak habisin makanan gue hari itu (mungkin itu salah satu masa impulsif diet gue), dan dia langsung ceramahin gue “jangan buang-buang makanan, orang lain banyak yang gak makan.” Gue cengengesan doang sambil bilang “abis kenyang.” dan siap untuk ngelanjutin pembahasan website.

Lalu temen gue bilang, “Serius gue nih.” Temen gue ini jarang ngomong serius, fyi. Bahkan kalo lagi ngomongin kerjaan juga dia bisa-bisanya bercanda. Jadi gue cukup kaget. Lalu dia cerita masa-masa awal dia mulai karir fotografinya. Kalau nggak salah dia masih kuliah waktu itu. Dia proyekan fotografi biar mamanya gak usah kirimin dia duit lagi. Mamanya single parent, dan temen gue ini punya 3 adik laki-laki, jadi temen gue ini gak pengen nyusahin mamanya. Tapi ternyata hidupnya sendiri juga jadi susah sekali waktu itu katanya. Dia bahkan pernah tidur di stasiun Trans Jakarta karena enggak punya ongkos pulang dan teman-temannya gak bisa dihubungin. Di masa-masa itu juga dia merasakan sulitnya cari makan, ga jarang dia skip meals. Lalu dia berpesan sama gue, “tiap kali gue mau buang sisa makanan, gue teringat saat gue gak bisa makan, saat gue gak ada duit. Jadi tiap lo mau buang makanan lo, gue harap lo inget temen lo ini pernah gak bisa makan, jadi lo gak jadi buang makanan lo.”

Nasihat “jangan buang-buang makanan” dan “orang di Afrika gak bisa makan loh” memang udah sering gue denger. Tapi baru kali itu gue mendengar orang dekat gue – teman beli permen bareng waktu kecil – pernah mengalami sendiri susahnya cari makan. Rasanya hati gue mengerut tiap kali gue ingat cerita temen gue. Dan ya, tiap gue mau buang sisa makanan, gue ingat cerita temen gue, dan gue berdoa agar dia gak pernah di posisi tersebut lagi.

*****

Gue lihat kembali mangkuk gue, dan gue putuskan untuk menghabiskan serpihan tahu di dalamnya.

 

3.54

That’s when the birds started chirping today. The moon was still there and the sun had yet to come, but the birds had started singing. I was not sure whether they were singing happily or they were whining about having to wake up so early. For all I knew, they raised and chirped. At 3.54. I hoped they’d get the worms. Good night, birdies.

PS: strangely enough, I also heard two guys walking and talking behind my apartment window at 3.59.

Charlottesville, April 30th, 2018.

 

Gila lo ya?

Gak ngerti lagi sama pernyataan ini:

“Fitrah seorang perempuan itu di rumah. Jadi with time juga pasti akan terbiasa.”

What. The. Fuck.

Gue ampe googling artinya fitrah apaan. Dalam bahasa Inggris: primordial human nature atau instinct. How the hell di rumah aja adalah primordial human nature? Ada apa di badan seorang perempuan yang bikin secara alamiah perempuan tempatnya di rumah saja. HELLOOOOOOOO? SAMLEKOOOMM???

Bedain ya woi human nature sama norma sosial alias standard bentukan masyarakat (yang berdasar pada persepsi di jamannya). Sekalian aja lo bilang bumi itu datar!

“With time akan terbiasa.” LOL. Yaelah, ga cewek ga cowok ya akan kebiasaan kalo lama2 ngejalanin apapun. Lo di Indonesia dari kecil makan nasi ya kebiasa. Temen gue dari kecil makan pasta ya kebiasa juga.

Aduh please ya lelaki. Ga usah pake alesan fitrah dan sok logis deh untuk memenuhi ego  lo. Humans are irational indeed, gue ngerti dan gue pun irrational. Tapi ya udah akuin aja lo irrational, gak usah jadi cari-cari alesan biar jadi logis. Bzzz.

Thanks, Carrie!

Kadang-kadang gue pikir mungkin semua lebih mudah kalau gue minum alkohol, kalau gue mau melakukan sex sebelum menikah, kalau gue gak terlalu cinta Indonesia dan keluarga dan teman-teman di Indonesia, kalau gue gak terlalu benci orang-orang angkuh dan ignorant.

Kadang-kadang gue juga pikir semua lebih mudah kalau gue termasuk dalam golongan wanita cantik (this is shallow, but it’s been my top two insecurities these days), dalam golongan orang yang outgoing (bahkan airBnB host gue aja kasih gue review: Nagea is a very quiet, respectful, and tidy guest. Lol.), dalam golongan orang yang fun to be with (anak-anak SD yang gue ajar ampe ribut saking bosennya).

I wish I were not such an uptight person, I wish I did not have too many unrealistic dreams.

Makin dipikirin, gue makin insecure sama hidup gue. Tapi the ignorant in me also says: yeah what the heck, deal with it later, now let’s watch Carrie Bradshaw eat fries at 3 in the morning and not getting fat.

PS: at this point, I’ve missed my application for an entrepreneurship competition and haven’t read any single page of the 60 f*cking page of reading materials for my Monday 8-5 class. Thanks, Carrie!

Our nonsense at Pavs

Tina: I am pretending to be a pet. I am a cat pet!

Xue: Nagea, do you want to be a pet, too?

Me: What’s the advantage of being a pet?

Tina: Xue will feed us every day with unhealthy snack

Me: Awesome. Sure, which pet fits me?

Tina: HAMSTER! Hahahaha.

Me: …