Keluar dari zona nyaman

Akhirnya masa ini datang. Masa yang saya idam-idamkan sejak SMA: menjadi pelajar di belahan dunia yang lain, di dunia Barat, dimana semua modernisasi dimulai dan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Tidak sabar rasanya memulai kelas Senin depan. Meski dengan sedikit (banyak) rasa takut, saya tidak sabar bertukar pikiran dan menyerap ilmu dari orang-orang baru dengan budaya yang tidak saya kenal dan profesi yang mengagumkan.

Namun, excitement ini tidak berhasil mengalahkan kegundahan hati saya berada 16,500 km dari rumah. Dan ini bukan hanya masalah jarak. Ini tentang melangkah keluar dari zona nyaman saya, yang ternyata memang teramat nyaman. Bagaimana tidak? Saya dikelilingi orang-orang yang begitu mengasihi saya dan selalu menegakkan punggung saya ketika dunia saya berputar terlalu kencang, saya juga memiliki pekerjaan stabil yang memberikan saya kemewahan hidup di ibukota – kemana-mana naik taxi/uber, makan hampir selalu di luar, dan hey, seasing-asingnya seseorang, mereka tetap orang Indonesia yang sama-sama makan nasi dan akan memberi bantuan ketika melihat ada orang kesulitan. Tiga hal yang dalam 5 hari saja sudah saya rindukan.

Tidak banyak mahasiswa Indonesia di sini, di Charlottesville. Semua hidup mandiri dan sendiri, layaknya masyarakat negara adidaya. Sempat juga merasa iri melihat teman-teman di kota atau benua lain yang masih sering kumpul. Tidak nyaman, tapi ini konsekuensi yang saya ambil. Toh salah satu yang ingin saya dapatkan selama kuliah adalah kemandirian. Satu hal yang selalu bikin mama gregetan sama saya.

Sebetulnya, ini bukan pertama kali saya tinggal di luar negeri. Pada tahun 2011, saya pernah tinggal selama dua bulan di Argentina. Tapi waktu itu berbeda, bukan karena durasinya, tapi karena status saya saat itu. Ketika itu saya pergi untuk urusan pekerjaan, dimana semua fasilitas adalah fasilitas bisnis – penerbangan terbaik, hotel berbintang (ya, selama dua bulan), sangu hampir $100 sehari, gaji bulanan tetap masuk. Kali ini saya pergi sebagai pelajar dengan beasiswa pemerintah. Semua ditanggung, tapi jangan harap kemewahan. Juga jangan harap uang beasiswa datang tepat waktu. Tidak ada lagi pendapatan stabil dari perusahaan swasta. Saya harus berhemat, sehemat-hematnya. Kata yang juga tidak begitu saya kenal dengan baik.

Betapa terkejutnya saya saat kemarin berbelanja kebutuhan sehari-hari yang hanya terdiri dari ayam, ikan, kentang, susu, mentega, sereal, adonan pancake, panci, piring, pembalut, dan kaus kaki mengharuskan saya membayar $66 atau sekitar Rp 900,000. Saya bayangkan kalau belanja di Superindo Pancoran hanya akan menghabiskan Rp 500,000. Jadi menyesal tidak mendengar Mama untuk bawa alat masak dari Indonesia saja.

Bukan itu saja, grocery store tempat saya berbelanja itu jaraknya 30 menit jalan kaki (mungkin sekitar 2.5 km) dari apartemen saya (tolong jangan bayangkan apartemen mewah di Jakarta). Oh ya, karena saya tidak bisa nyetir dan tidak punya spare uang untuk beli mobil, saya kemana-mana jalan kaki. Taxi? Lupain aja. Jarak 2km aja biayanya $10. Argo kuda kalau kata orang Indonesia. Saya, si anak manja ini, jalan kaki bawa-bawa belanjaan yang lebih berat dari beban latihan TRX. Alhasil perjalanan 30 menit jadi hampir satu jam karena saya harus berhenti setiap beberapa ratus meter. Dalam situasi seperti ini di Indonesia, saya cukup beruntung karena ada saja yang menolong. Tapi tidak di sini. Sesampainya di rumah, saya rasanya enggak sanggup ngapa-ngapain lagi, bahkan membatalkan niat memasak dan langsung tidur saja.

Sebagai seseorang dengan level insecurity dan ke-tidak-pede-an yang cukup mengkhawatirkan, bertemu dengan bangsa yang secara global dikenal lebih maju berlangkah-langkap dari negara saya juga menjadi momok tertentu. Takut salah bicara, takut salah bertindak, takut terlihat bodoh. Kali ini, saya harus menjadi tidak nyaman dan mengambil risiko untuk salah bicara, salah bertindak, dan semoga tidak terlihat begitu bodoh.

Ternyata, keluar dari zona nyaman itu lebih sulit dilakukan dibandingkan diucapkan. Betul-betul tidak nyaman, betul-betul menantang. Doakan saya berhasil melewatinya dengan gemilang!

Charlottesville, 22 Agustus 2016.

Ditulis di sela-sela mengerjakan tugas pertama kuliah (bahkan sebelum kuliah dimulai – hidup pelajar MBA sudah dimulai!)

 

 

Advertisements

One thought on “Keluar dari zona nyaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s