Start with Bismillah

God works in his very own way. Again.

Some time ago, somehow, I talked a lot with this one person who had just went through a hurtful broken heart. Yet, he wanted marriage so badly, for one main reason: as a form of ibadah or worship to Allah The Almighty. The first time he told me his broken heart story, he was also making up his mind about asking his bestfriend to marry him. The lady had a boyfriend back then… But he said, “I know.. But I’ll just start with Bismillah.. And let’s see..”

Honestly, I thought he was a weirdo. Hehehe. I was not the kind of person who started everything with Bismillah, for I do not know what reason. It just felt weird.

Another time, he needed some advise on how to talk effectively to the lady – his future wife (he proposed and she said yes!). Unfortunately, I was heading to my GMAT class and couldn’t meet him. And he told me, “go study. Start with Bismillah… So your study will be counted as ibadah…” I have never thought of that before… But well, there must be a reason why school started with prayer when I was a kid.

Very recently, cause of some silly misscommunication, I challenged him on his wedding plan (yea, I am sometimes a pain in the ass when it comes to truly supporting my good friends), and he told me, “I have faith in this. I feel at peace. And I start with Bismillah…”

Just another conversation involving Bismillah, I thought to myself… But this time was kinda huge…

Few days ago, I was telling him that I couldn’t attend his talk next Thursday and blabbing about revising my essay and running to my GMAT class. And again, he told me, “Don’t forget to start with Bismillah… So all those that you do count as Ibadah..”

I didn’t start my GMAT class with Bismillah that day. But in the middle of the class, I had difficulties concentrating and somehow my mind wandered to that conversations about starting things with Bismillah. So, I said it.

I felt a little warm inside.

Yesterday, I had a rough day, nearly blacking out for no reason. So, I spent the whole day resting on my bed. This morning I reached the office feeling so energized and fully charged. I started writing my “to do” as soon as I got to my desk. But somehow my mind wandered to those Bismillah conversation again. So… I finally reached out to my stationary box and wrote this..

IMG_3116.JPG

And yes, I did start with Bismillah today.. And now that I have sticked a reminder on my desk, at eye-level too… I kinda said it more often. Funny that my eyes keep bumping to the post it everytime I am feeling like I am doing such a nonsense job or like I am going to face difficulties. Hoho, difficulties remain and my job is probably still nonsense. But umm.. I don’t know.. It just feels right saying the word.. And warm.. And light.. So.. Yea, I think I’ll begin more things with Bismillah..

I know You always work on Your very own way. And um… Thank You for keeping a big patience for me. 🙂

Advertisements

La priére de la mére

IMG_1862.JPG

“Untuk anak-anakku, tanpa terkecuali.” Begitu bunyi caption foto yang dikirim mama pagi tadi. Foto yang berisi penggalan doa yang ia baca setelah sholat… Lalu mama bilang, “doakan mama sehat-sehat ya Nak, biar bisa terus doain kamu…”

Mama… Maafin ghea, Mama… Sejuta terima kasih, segala balas budi, seluruh kasih sayang ghea gak akan pernah cukup membalas kasih sayang mama buat ghea… Betapa beruntungnya ghea punya ibu seperti Mama, yang penuh kasih sayang, yang bijaksana, yang penuh semangat, yang selalu mendukung ghea, yang selalu memberikan yang terbaik untuk ghea.

I love you, Mama… Semoga Allah SWT selalu menjaga dan menyayangi Mama… Semoga seperti doa mama, hidup kita selalu diberkahi Allah SWT. I love you, Mama…

Titik terendah

Titik terendah itu perlu. Agar bisa segera kembali menanjak. Percayalah, energi yang diperlukan untuk menaiki anak tangga itu tidak lebih besar dari energi saat menuruninya.

Tergelincir sedikit tidak apa-apa. Daripada selalu menatap ke bawah, ke jalanan berkerikil, dan melewatkan pemandangan indah yang tidak akan bisa ditangkap kamera sebagus apapun.

Luka-luka sedikit tidak masalah. Pada waktunya akan sembuh sendiri dan akan mengingatkan betapa berani dan kuatnya diri, melebihi apa yang pernah disangka.

Rasakan saja pedihnya, sakitnya, penatnya, sesaknya. Karena itu perasaan terbaik yang dimiliki sekarang.

Tarik nafas, hembuskan.

– ditulis saat mimpi sedari kecil sudah hampir pupus, tidak becus mengkoordinir sebuah gerakan sosial dengan potensi besar, berat badan naik 8kg, jerawat tumbuh dengan riangnya di seluruh wajah, dan, seperti biasa, mengacau di hubungan percintaan, lalu bisa-bisanya bertemu mantan kekasih yang kini sudah menikah.

Careful of what you wish for.

Last night, I wrote Doa hari ini here on my blog.

This morning, I woke up thinking I’ll spend my whole day at a coffee shop to revise my school application documents. While preparing myself, I built up an idea of spending the new year eve writing and reflecting 2014 at a bar – I promised no alcohol involved, just want to feel the cheerie spirit of a new year eve.

On my way to the coffee shop, I received a WhatsApp message from my dearly friend, Raissa. Informing me this NYE event at the mosque.

IMG_9476.JPG

Just another way to reflect upon 2014. A much better way than what I had planned. A way that answered last night’s prayer.

Careful. God hears you. 🙂

Doa hari ini.

Asam garam kehidupan beberapa tahun belakangan membuat saya sulit menaruh kepercayaan pada orang lain. Namun, selalu saja ada yang berhasil dengan mudahnya mendapatkan kepercayaan itu. Tentu saja berakhir dengan kekecewaan saya. Lalu apa? Lalu semakin sulit bagi saya untuk memercayai orang lain. Siklus ini terus berulang hingga saya tidak tahu harus percaya siapa lagi. Tidak tahu pada siapa lagi bisa berharap.

Maka saya belajar. Bahwa, pada akhirnya, memang hanya satu tempat menggantungkan asa. Hanya satu tempat bersandar yang selalu ada. Hanya satu yang selalu tepat waktu. Hanya satu yang tak pernah ingkari janji. Hanya satu yang memberi ketenangan hati dan pikiran.

Maka saya memohon. Agar bisa lebih dekat lagi dengan-Mu, Ya Allah. Agar bisa tepat waktu dengan-Mu. Agar bisa menepati janji-janji saya pada-Mu sebagai seorang yang mengaku Islam. Agar saya selalu berserah hanya pada-Mu. Agar saya selalu percaya pada-Mu dan segala rencana-Mu, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Yang Maha Penyayang (100 Days of Happiness and Gratitude – Day #42)

Bersyukur sekali selalu diingatkan oleh Allah dan selalu dikembalikan ke jalan-Nya. Kemarin malam, dengan riang gembira saya berangkat ke masjid untuk mendengarkan ceramah ustad ternama, Aa’ Gymnastiar. Tanpa disadari ada sedikit rasa ria yang tersangkut sejak pagi itu. Memang Tuhan Maha Mengetahui, di saat saya tidak sadar bahwa saya ria, Ia Tahu dan Ia menegur saya: peralatan sholat dan kenclengan sedekah saya justru tertinggal di kantor. Dan ternyata peralatan sholat di masjid itu sudah ludes dipinjam jamaah lainnya. Bye-bye sholat berjamaah dan mengaji di masjid. Kesal sih. Tapi juga bersyukur. Bersyukur Allah masih menegur saya.

Lalu, pagi ini saya bangun kesiangan. Dan hal pertama yang saya lakukan justru membuka handphone saya. Saat baru akan membalas salah satu pesan di WhatsApp, sinyal saya hilang (terima kasih Telkomsel). Jadi saja saya tidak bisa membaca dan membalas pesan-pesan. Kesal. Tapi lalu ingat, saya kan belum sholat Subuh. Lagi-lagi diingatkan oleh Allah. Bersyukur sekali masih diingatkan oleh Allah. Berarti masih disayang oleh Allah, meskipun saya udah bikin salah berjuta kali, udah melanggar peraturannya ga terhitung kali, suka tidak ingat pada-Nya. Sungguh Allah Maha Penyayang, ya. Alhamdulillah.