Bukan Menanti (repost from my other blog)

 

Sayang, saya tahu kamu sedang berjalan kemari. Mungkin sambil menikmati wangi hujan yang baru saja reda.

Saya tahu kamu sedang mencari-cari papan petunjuk arah. Mungkin sambil mengagumi cantiknya kota.

Saya tahu kamu akan segera sampai. Mungkin sambil membawa sekantong ubi hangat.

Dan, Sayang, saya juga sedang berjalan, Sambil bersenandung lagu riang, meresapi semilir angin, dan dengan sebotol limun dingin di tangan saya.

— bumped into this outdated post from my other blog (that holds greater insecurity, mostly on romantic relationship). I can’t remember how I ended up writing these. I can’t even believe my choice of words. Sekantong ubi hangat?? Hahaha. But well, I do like ubi THAT much.

Taci at Carrefour – 100 Days of Happiness and Gratitude – Day #70

It was an extremely exhausting day today.

  • Had the usual pain of first day of the period: cramp, sore around my back, leg, and arm, and anemia.
  • Announcing that the team overall reached February target, I reach target (in overall numbers), but two of my channels don’t  (means, I actually didn’t set my target right and actually didn’t reach my target in grooming and managing my people).
  • Setting the new target for the channels (yes, target setting is crazy exhausting!).
  • Sharing session with the non-performing team.
  • Sharing session with my lifeline in the team, who is rotating to other team and is not being replaced with a person at her level – no, not even close.
  • Being mandated a new channel to handle but is losing people. It’s kind of more complicated than that, but my brain has stopped working and decided to not giving a damn of what I am writing.
  • Waiting in pain for my mom’s health condition update – this is mentally exhausting, I almost wiped five times today because of this.

Thanks thanks thanks God my mother is fine and had only minor infection in her digestive. The doctor told her to control her diet for good because bad diet can really be harmful for her digestive system – good that she heard it from the doctor.

Also, I went grocery shopping with my brother today – using his 100K Carrefour voucher! YEAY! Me love vouchers (Yes, I have become that person who value free valuable stuffs hehe)! Besides, I love grocery shopping with my brother cause it is something that we do with our mom. However, I was so exhausted that I sighed multiple times and barely smile.

Until I went picking some eggs (my brother loves scrambled eggs). I was about to pick them bare-handed when a senior Taci (address for senior woman with Indonesian-Chinese ethnicity) suddenly stopped me and said, “Hey, use this (plastic bag) as a glove, don’t pick the eggs bare-handed. It is very dirty,” while handing me her used plastic bag.

Although I am not a big fan of plastic bag exploitation, the fact that a stranger actually cared about me and bothered admonishing me for this very little thing is extremely heart-warming. In this world of ignorance and solitude, there are still people that cares that much. This might sound crazy, but I felt loved. And I think that is the feeling that everyone must bring to other people – whichever way we chose to bring that feeling.

What this Taci did somehow also reminded me of few of the dearest persons in my life who would do exactly the same thing with her. Caring and loving through the little things. Afterall, it is probably the little things that make our life matter.

Good night, everyone.

 

 

La priére de la mére

IMG_1862.JPG

“Untuk anak-anakku, tanpa terkecuali.” Begitu bunyi caption foto yang dikirim mama pagi tadi. Foto yang berisi penggalan doa yang ia baca setelah sholat… Lalu mama bilang, “doakan mama sehat-sehat ya Nak, biar bisa terus doain kamu…”

Mama… Maafin ghea, Mama… Sejuta terima kasih, segala balas budi, seluruh kasih sayang ghea gak akan pernah cukup membalas kasih sayang mama buat ghea… Betapa beruntungnya ghea punya ibu seperti Mama, yang penuh kasih sayang, yang bijaksana, yang penuh semangat, yang selalu mendukung ghea, yang selalu memberikan yang terbaik untuk ghea.

I love you, Mama… Semoga Allah SWT selalu menjaga dan menyayangi Mama… Semoga seperti doa mama, hidup kita selalu diberkahi Allah SWT. I love you, Mama…

Sepakat untuk tidak sepakat

Lo lagi, lo lagi. Entah ke-berapa kali gue membatin, “seandainya lo seorang muslim”.

Sudah hampir tiga tahun sejak kita bermusyawarah bermufakat dan akhirnya memutuskan sepakat untuk tidak sepakat. Sepakat untuk berada di jalan masing-masing: untukku agamaku, untukmu agamamu. Dan sepakat bahwa lo dan gue tidak akan pernah benar-benar jadi satu, seberapa pun inginnya kita.

Lucu rasanya duduk bersebelahan dengan lo, berbicara tentang perjodohan antar masyarakat sipil. Bahwa dalam fungsi perjodohan ada elemen rasa, kebutuhan, tujuan, juga waktu. Sulit untuk menahan neuron-neuron dari masa lalu untuk tidak bersambungan. Sulit untuk tidak membatin, “kenapa tujuan kita harus berbeda?”

Kadang, pertanyaannya juga berubah jadi: kenapa terlalu banyak persamaan? Bahkan waktu. Bahkan masalah. Bahkan tujuan objek wisata. Bahkan cita-cita. Bahkan cara pikir. Cara pikir yang membuat kita memutuskan untuk “sepakat untuk tidak sepakat”.

Tapi, meski cara berdoa gue beda dengan cara berdoa lo, doa gue selalu mengiringi lo.

Seandainya lo seorang muslim…

Does true love exist?

I sometimes wonder if true love, other than parents’ love to their kids and vice versa, ever exist. I wonder if people really get married out of love and not…the necessity or a marital status or…or having a inheritance or…or the fear of being alone. Tell me, does true love exist?

Matthew Mole – My New Addiction

Saya sedang tergila-gila dengan lagu-lagunya Matthew Mole dari album The Home We Built. Lagu dan musiknya ringan. An upbeat accoustic ballad with banjo touch here and there. Tipe lagu yang akan saya dengarkan ketika saya berjalan dari kantor ke kedai eskrim, ketika saya dalam bus transjakarta menuju apartemen, dan ketika bermenung kala hujan di malam Jakarta. Setelah googling, I found out that Mr. Mole is South African. That explains how he got that cool groove in his music and why I was in love with his music at the first few bars.

Yang bikin saya makin suka adalah liriknya. Nendang tepat di perut saya. Hehehe. Seperti lagu-lagu masa kini, kata-katanya jauh dari puitis (puitis itu miliknya Erros Djarot dan Guruh Soekarno Putra saja kalau menurut saya hehehe). Namun, kata-kata tidak puitis itu resonates well with me. Kata-katanya meneriakkan apa yang pernah saya alami, apa yang sedang saya rasakan, dan apa yang saya harap-harapkan untuk terjadi. Ya, semua lagu Matthew Mole bercerita tentang cinta: tentang proses jatuh cinta, tentang menemukan belahan jiwa, tentang harapan untuk bersama selamanya.

Kalau sampai ada cowok yang menyanyikan lagu Matthew Mole buat saya, saya bisa pastikan saya akan meleleh seketika. Apalagi kalau nyanyi-nya sambil main gitar. Hehehe.

Lagu yang paling saya suka, dan otomatis paling bisa saya resapi, adalah Same Parts Same Hearts.

Lagu ini bercerita tentang penemuan belahan jiwa. Hahaha. Bahasa saya kok aneh ya. Saya gak bisa jelasin sih sebenernya ini tuh tentang apa. Tapi saya tahu betul apa yang dia maksud. Saya cuplik sedikit liriknya:

All of the stories that you’ve ever told me have brought us close
Closer to notice that you are the closest to strange, like me

Your beautiful facial expressions will tell me what I need to know
And you mumble the weirdest collection of words, but I thought them too.

We are made of the same parts
We were made from the same heart

Sungguh menyenangkan saat mengetahui ada seseorang yang sama anehnya dengan saya, seseorang yang bisa saya ajak bercerita segala macam hal mulai dari mimpi hingga hmm…psikologi? Hehehe. Seseorang yang dengan melihat ekspresi dan bahasa tubuhnya saja saya sudah tahu kalau dia hanya ingin main games di kamar – bukan karena tidak ingin bersosialisasi, tapi karena sedang berhemat demi kelancaran bisnis yang sedang ia rintis. Seseorang yang tahu semua topeng saya dan bisa melihat my true colors, yang tahu segala hal yang saya cintai.

Yaaa, jadi lagu tadi sangat bermakna buat saya. Saya berharap akan bertemu seorang seperti itu lagi – seorang dengan kepribadian dan dengan lini masa yang begitu compatible dengan saya. Dan kali lain itu, saya harap, seseorang itu memiliki fondasi dan kepercayaan yang sama dengan saya: Islam.