3.54

That’s when the birds started chirping today. The moon was still there and the sun had yet to come, but the birds had started singing. I was not sure whether they were singing happily or they were whining about having to wake up so early. For all I knew, they raised and chirped. At 3.54. I hoped they’d get the worms. Good night, birdies.

PS: strangely enough, I also heard two guys walking and talking behind my apartment window at 3.59.

Charlottesville, April 30th, 2018.

 

Advertisements

Gila lo ya?

Gak ngerti lagi sama pernyataan ini:

“Fitrah seorang perempuan itu di rumah. Jadi with time juga pasti akan terbiasa.”

What. The. Fuck.

Gue ampe googling artinya fitrah apaan. Dalam bahasa Inggris: primordial human nature atau instinct. How the hell di rumah aja adalah primordial human nature? Ada apa di badan seorang perempuan yang bikin secara alamiah perempuan tempatnya di rumah saja. HELLOOOOOOOO? SAMLEKOOOMM???

Bedain ya woi human nature sama norma sosial alias standard bentukan masyarakat (yang berdasar pada persepsi di jamannya). Sekalian aja lo bilang bumi itu datar!

“With time akan terbiasa.” LOL. Yaelah, ga cewek ga cowok ya akan kebiasaan kalo lama2 ngejalanin apapun. Lo di Indonesia dari kecil makan nasi ya kebiasa. Temen gue dari kecil makan pasta ya kebiasa juga.

Aduh please ya lelaki. Ga usah pake alesan fitrah dan sok logis deh untuk memenuhi ego  lo. Humans are irational indeed, gue ngerti dan gue pun irrational. Tapi ya udah akuin aja lo irrational, gak usah jadi cari-cari alesan biar jadi logis. Bzzz.

Thanks, Carrie!

Kadang-kadang gue pikir mungkin semua lebih mudah kalau gue minum alkohol, kalau gue mau melakukan sex sebelum menikah, kalau gue gak terlalu cinta Indonesia dan keluarga dan teman-teman di Indonesia, kalau gue gak terlalu benci orang-orang angkuh dan ignorant.

Kadang-kadang gue juga pikir semua lebih mudah kalau gue termasuk dalam golongan wanita cantik (this is shallow, but it’s been my top two insecurities these days), dalam golongan orang yang outgoing (bahkan airBnB host gue aja kasih gue review: Nagea is a very quiet, respectful, and tidy guest. Lol.), dalam golongan orang yang fun to be with (anak-anak SD yang gue ajar ampe ribut saking bosennya).

I wish I were not such an uptight person, I wish I did not have too many unrealistic dreams.

Makin dipikirin, gue makin insecure sama hidup gue. Tapi the ignorant in me also says: yeah what the heck, deal with it later, now let’s watch Carrie Bradshaw eat fries at 3 in the morning and not getting fat.

PS: at this point, I’ve missed my application for an entrepreneurship competition and haven’t read any single page of the 60 f*cking page of reading materials for my Monday 8-5 class. Thanks, Carrie!

I Was Pretty

I was checking my facebook and was reminded of pictures from 5.5 years ago when I was only 24 years old. I had long and thick black hairs, fairer skin than today, and was much skinnier than I am today. I was wearing my favorite black blouse and blue batik mini skirt (yes, I was confident enough to put on minis). The only make up I wore was black pencil eyeliner – I did not know how to put on liquid eyeliner then. I was pretty. I never really thought of myself as pretty, but I was pretty in that photo.

These days, I have been thinking a lot about physical appearance (thanks to Korean and Japanese drama) and somehow I am so close to being obsessed to be someone with a much better physical appearance – you know, skinny, thick hair, clear acne-free skin, smaller thigh, better calves… All that I am not… All these thoughts frustrated me enough to not even start working on it.

But then, when I look at these old pictures, I came to a realization that beauty does not last. I was once pretty, probably for around 2 years when I was 24-25 years old, but then somehow the beauty slowly fades away – maybe because I age, maybe because of the troubles I’m facing, maybe because of heartbreaks. I don’t think I could be that pretty anymore, no way I would have that youthful beauty again. But it’s not just me, I saw the same things in others too. In my mom, in my aunts, in my crush, in my friends, even in celebrities… I saw physical beauty fades away.

It fades away, yet we put soooo much attention on it. It is as if it were the second most important thing to keep us alive and dignified as a person. Some of my muslim friend (especially guys) would probably say this: Allah SWT likes beauty, so we should too. Let’s be honest, just between the two of us, you really don’t mean that. You just meant: I like beautiful girls (or beautifying myself) cause I deserve that, so just don’t mess with that thought.

It fades away, but we base a lot of important decisions off of it: to date or not to date someone, to hire or not to hire someone (remember how companies ask for your picture), to partner or not to partner with someone at school/business/life, to befriend or not to befriend with someone, and the worst is to treat or not to treat someone nicely and humanely.

It fades away, yet we invest so much of our time and money on it. When was the last time you bought lipstick or skin product – for you or for your wife/partner/girlfriend? And when was the last time you bought book that will enrich your view, or apps that will make you content or closer to Your Creator, or even a simple takeaway from your favorite restaurant for your parents? Yeah? I thought so, too.

– Gea, the ugly swan (or duckling still?)

 

Ngalor Ngidul Rindu Indonesia

Entah kenapa beberapa hari ini saya rindu sekali dengan Indonesia. Padahal baru 6 bulan saya di sini, di Amerika. Kualitas hidup secara fisik di Indonesia memang tidak bisa dibandingkan dengan di Amerika, kita jauh sekali tertinggal. Mungkin kualitas mental juga masih jauh – antri, kritis, memberi tempat duduk bagi orang lanjut usia seingat saya belum lazim ditemukan di Indonesia. Tapi, tetap saja hati saya berlabuhnya di Indonesia.

Tetap saja segala ketidakberaturan dan ketidakmerataan kalah dengan cantiknya nada-nada pentatonis, dengan hangatnya pembicaraan dengan pengemudi ojek, dengan segala perasaan yang membuat saya akan selalu memanggilnya rumah. Bisa jadi ketidakberaturan dan ketidakmerataan tersebut juga adalah yang membuat saya menyukai negara ini – karena ini berarti peluang untuk berkontribusi, ada masalah yang mungkin bisa saya pecahkan. Saya menyukai negara ini seperti saya menyukai nada-nada disonan.

Seharusnya saat ini saya mempersiapkan diri untuk wawancara internship dengan salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia akhir minggu ini. Seharusnya juga saya membaca dan mengerjakan studi kasus untuk kuliah besok hari. Tapi pikiran saya kali ini sulit sekali untuk diajak kerjasama. Satu paragraf membaca lalu pikiran saya langsung melayang ke Jakarta. Lalu setelah sadar dari lamunan, saya kembali membaca. Satu paragraf dan kembali melamun. Begitu terus.

Memasak masakan Indonesia, mendengarkan lagu-lagu Indonesia (Guruh Soekarno Putra sungguh adalah salah satu pencipta lagu terbaik di Indonesia), hingga berbincang dengan orangtua dan adik di Indonesia sudah saya lakukan. Tetap masih rindu.

Akhirnya saya jadi membaca berita-berita terkini dari tanah air. Tentu yang sedang marak adalah mengenai pemilihan gubernur DKI 2017, berikut segala turunannya – penistaan agama, syiah, dan Ira Koesno. Beberapa perusahaan bahkan dituding memiliki keberpihakan terhadap calon tertentu tanpa ada fakta yang jelas, dan tentu saja tudingan tersebut disambut tanpa pertanyaan oleh berbagai kalangan masyarakat. Rasanya mau marah kalau baca berita seperti ini. Marah karena kita tidak dibiasakan berpikir kritis sejak kecil; marah karena kita diharuskan menelan bulat-bulat apapun kata guru di sekolah – sekarang ketika sudah selesai sekolah, otomatis pemberi informasi adalah para jurnalis baik profesional, amatir, ataupun -jurnalisan. Tidak heran jadi target hoax.

Saya lihat-lihat, sepertinya dua calon memiliki kans yang cukup besar meski memiliki gaya yang berbeda. Saya jadi penasaran dan mencari-cari tahu visi misi dan rencana kerja mereka apa saja. Tidak sulit mencarinya. Butuh tiga klik saja: klik tombol search setelah mengetik kata kunci “visi misi calon gubernur dki 2017”, klik berita nomer dua teratas, klik tautan yang menjadi sumber di berita tersebut, dan sampailah saya disini.

Hal pertama yang saya lihat adalah profil – pendidikan, moto, pengalaman kerja, dan penghargaan. Menarik sekali melihat keenam calon (gub-wagub) memiliki latar belakang pendidikan yang sangat berbeda, tapi pada akhirnya sama-sama duduk di kursi yang sama – calon orang nomer 1 dan 2 di provinsi nomer 1 seantero Indonesia. Ini semacam memberi saya harapan – semua orang bisa menjadi apapun yang ia mau (dan yang dikehendaki Allah) kalau ia mau berusaha, dan berdoa tentunya.

Berikutnya yang saya lihat: visi, misi, dan program kerja. Sebenarnya perbedaan antara ketiga calon cukup signifikan baik dari gaya kepemimpinan dan struktur berpikir, tapi siapalah saya ini untuk menilai. Yang menarik perhatian saya justru salah satu kutipan yang ditampilkan salah seorang cagub bahwa Bank Dunia memperkirakan 70% dari masyarakat Indonesia akan tinggal di daerah kota. Urbanisasi. Menurut data BPS, tahun 2015 Indonesia berada di angka 53.5%. Saya jadi terbayang Jakarta tentunya akan menjadi lebih penuh sesak lagi – 40% lebih penuh dari saat ini jika kita mengasumsikan penyebaran yang merata antar kota.

Saya jadi kepikiran, saat pulang nanti mungkin Jakarta sudah makin penuh sesak. Kejomplangan sosial ekonomi juga mungkin semakin terpampang nyata. Dan daerah-daerah lainnya di Indonesia tetap tidak banyak peminat. Kecuali jika ada yang memulai.

Seketika juga terbayang kesibukan-kesibukan saya di Jakarta. Selalu ada yang dilakukan seusai pulang kantor, selalu ada yang ditemui, selalu ada kedai kopi untuk dicoba. Siapa yang tidak terbuai? Terbuai hingga menjadi seorang jomblo pun tidak menjadi masalah besar buat saya. Ah jadi semakin rindu. Tapi kembali teringat angka urbanisasi yang membikin enggan untuk kembali ke Jakarta. Enggan ke Jakarta, bukan ke Indonesia. Bagi saya, tidak ada tempat yang lebih nyaman dari Indonesia – tempat saya bisa berkomunikasi dengan kepala, dengan hati, dengan senyuman.

Lalu, kalau bukan ke Jakarta, kemana? Sebagai seorang big city girl, saya tentu tidak muluk-muluk untuk tinggal di tempat yang sama sekali terpencil, bahkan tidak kota kecil sekalipun. Balikpapan dan Surabaya terlintas di kepala. Hmm, mungkin lebih ke Balikpapan karena sepertinya kota ini sedang berkembang pesat dan saya percaya pembangunan harus bergerak ke luar pulau Jawa. Pertanyaan saya berikutnya adalah pekerjaan apa yang bisa membawa saya ke Balikpapan? Pekerjaan yang tentunya tidak akan menyia-nyiakan 2 tahun saya mengejar gelar MBA di salah satu sekolah bisnis terbaik di Amerika Serikat.

Mungkin lain waktu saja dipikirkan lagi. Rindu saya terhadap Indonesia sudah sedikit terobati dan ini sudah pukul 00:48. Sebaiknya saya membaca kembali bahan kuliah dan segera tidur agar tidak kesiangan esok hari. Semoga malam ini mimpi indah, mimpi Indonesia.

 

What do I do?

Meeting people makes me happy. But it also kills me.

Being with people enriches me. But sometimes it is too much that I value myself less.

Not talking to other humanbeing  makes me lonely. But talking to humanbeing many times makes me feel even lonelier. Makes me feel weirder.

What do I do?

berhenti.

Sepertinya sudah saatnya untuk gue berhenti mengucapkan hal-hal yang gak benar-benar pengen gue ucapkan. Hal-hal seperti basa-basi, atau pernyataan setuju ketika gue sebenernya sangat tidak setuju, atau pura-pura seru sendiri ketika ngobrol (langsung ataupun lewat dunia maya) padahal asli gue lagi ga pengen ngobrol, atau pernyataan yang gue keluarkan agar gue kelihatan tidak tahu apa yang gue lakukan. Entah kenapa sih gue suka banget melakukan ini, terus sebel sendiri ketika dianggap beneran tidak tahu apa-apa sama orang lain atau dianggap tidak punya pendapat pribadi atau dianggap bubbly (I am a complete opposite of that – my thoughts are pretty much dark). Dan sepertinya juga harus berhenti cengangas cengenges dan senyam senyum setiap ngobrol. Kalo kata pelatihan Asia Works sih, berhenti pake topeng.