Ngalor Ngidul Rindu Indonesia

Entah kenapa beberapa hari ini saya rindu sekali dengan Indonesia. Padahal baru 6 bulan saya di sini, di Amerika. Kualitas hidup secara fisik di Indonesia memang tidak bisa dibandingkan dengan di Amerika, kita jauh sekali tertinggal. Mungkin kualitas mental juga masih jauh – antri, kritis, memberi tempat duduk bagi orang lanjut usia seingat saya belum lazim ditemukan di Indonesia. Tapi, tetap saja hati saya berlabuhnya di Indonesia.

Tetap saja segala ketidakberaturan dan ketidakmerataan kalah dengan cantiknya nada-nada pentatonis, dengan hangatnya pembicaraan dengan pengemudi ojek, dengan segala perasaan yang membuat saya akan selalu memanggilnya rumah. Bisa jadi ketidakberaturan dan ketidakmerataan tersebut juga adalah yang membuat saya menyukai negara ini – karena ini berarti peluang untuk berkontribusi, ada masalah yang mungkin bisa saya pecahkan. Saya menyukai negara ini seperti saya menyukai nada-nada disonan.

Seharusnya saat ini saya mempersiapkan diri untuk wawancara internship dengan salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia akhir minggu ini. Seharusnya juga saya membaca dan mengerjakan studi kasus untuk kuliah besok hari. Tapi pikiran saya kali ini sulit sekali untuk diajak kerjasama. Satu paragraf membaca lalu pikiran saya langsung melayang ke Jakarta. Lalu setelah sadar dari lamunan, saya kembali membaca. Satu paragraf dan kembali melamun. Begitu terus.

Memasak masakan Indonesia, mendengarkan lagu-lagu Indonesia (Guruh Soekarno Putra sungguh adalah salah satu pencipta lagu terbaik di Indonesia), hingga berbincang dengan orangtua dan adik di Indonesia sudah saya lakukan. Tetap masih rindu.

Akhirnya saya jadi membaca berita-berita terkini dari tanah air. Tentu yang sedang marak adalah mengenai pemilihan gubernur DKI 2017, berikut segala turunannya – penistaan agama, syiah, dan Ira Koesno. Beberapa perusahaan bahkan dituding memiliki keberpihakan terhadap calon tertentu tanpa ada fakta yang jelas, dan tentu saja tudingan tersebut disambut tanpa pertanyaan oleh berbagai kalangan masyarakat. Rasanya mau marah kalau baca berita seperti ini. Marah karena kita tidak dibiasakan berpikir kritis sejak kecil; marah karena kita diharuskan menelan bulat-bulat apapun kata guru di sekolah – sekarang ketika sudah selesai sekolah, otomatis pemberi informasi adalah para jurnalis baik profesional, amatir, ataupun -jurnalisan. Tidak heran jadi target hoax.

Saya lihat-lihat, sepertinya dua calon memiliki kans yang cukup besar meski memiliki gaya yang berbeda. Saya jadi penasaran dan mencari-cari tahu visi misi dan rencana kerja mereka apa saja. Tidak sulit mencarinya. Butuh tiga klik saja: klik tombol search setelah mengetik kata kunci “visi misi calon gubernur dki 2017”, klik berita nomer dua teratas, klik tautan yang menjadi sumber di berita tersebut, dan sampailah saya disini.

Hal pertama yang saya lihat adalah profil – pendidikan, moto, pengalaman kerja, dan penghargaan. Menarik sekali melihat keenam calon (gub-wagub) memiliki latar belakang pendidikan yang sangat berbeda, tapi pada akhirnya sama-sama duduk di kursi yang sama – calon orang nomer 1 dan 2 di provinsi nomer 1 seantero Indonesia. Ini semacam memberi saya harapan – semua orang bisa menjadi apapun yang ia mau (dan yang dikehendaki Allah) kalau ia mau berusaha, dan berdoa tentunya.

Berikutnya yang saya lihat: visi, misi, dan program kerja. Sebenarnya perbedaan antara ketiga calon cukup signifikan baik dari gaya kepemimpinan dan struktur berpikir, tapi siapalah saya ini untuk menilai. Yang menarik perhatian saya justru salah satu kutipan yang ditampilkan salah seorang cagub bahwa Bank Dunia memperkirakan 70% dari masyarakat Indonesia akan tinggal di daerah kota. Urbanisasi. Menurut data BPS, tahun 2015 Indonesia berada di angka 53.5%. Saya jadi terbayang Jakarta tentunya akan menjadi lebih penuh sesak lagi – 40% lebih penuh dari saat ini jika kita mengasumsikan penyebaran yang merata antar kota.

Saya jadi kepikiran, saat pulang nanti mungkin Jakarta sudah makin penuh sesak. Kejomplangan sosial ekonomi juga mungkin semakin terpampang nyata. Dan daerah-daerah lainnya di Indonesia tetap tidak banyak peminat. Kecuali jika ada yang memulai.

Seketika juga terbayang kesibukan-kesibukan saya di Jakarta. Selalu ada yang dilakukan seusai pulang kantor, selalu ada yang ditemui, selalu ada kedai kopi untuk dicoba. Siapa yang tidak terbuai? Terbuai hingga menjadi seorang jomblo pun tidak menjadi masalah besar buat saya. Ah jadi semakin rindu. Tapi kembali teringat angka urbanisasi yang membikin enggan untuk kembali ke Jakarta. Enggan ke Jakarta, bukan ke Indonesia. Bagi saya, tidak ada tempat yang lebih nyaman dari Indonesia – tempat saya bisa berkomunikasi dengan kepala, dengan hati, dengan senyuman.

Lalu, kalau bukan ke Jakarta, kemana? Sebagai seorang big city girl, saya tentu tidak muluk-muluk untuk tinggal di tempat yang sama sekali terpencil, bahkan tidak kota kecil sekalipun. Balikpapan dan Surabaya terlintas di kepala. Hmm, mungkin lebih ke Balikpapan karena sepertinya kota ini sedang berkembang pesat dan saya percaya pembangunan harus bergerak ke luar pulau Jawa. Pertanyaan saya berikutnya adalah pekerjaan apa yang bisa membawa saya ke Balikpapan? Pekerjaan yang tentunya tidak akan menyia-nyiakan 2 tahun saya mengejar gelar MBA di salah satu sekolah bisnis terbaik di Amerika Serikat.

Mungkin lain waktu saja dipikirkan lagi. Rindu saya terhadap Indonesia sudah sedikit terobati dan ini sudah pukul 00:48. Sebaiknya saya membaca kembali bahan kuliah dan segera tidur agar tidak kesiangan esok hari. Semoga malam ini mimpi indah, mimpi Indonesia.

 

Keluar dari zona nyaman

Akhirnya masa ini datang. Masa yang saya idam-idamkan sejak SMA: menjadi pelajar di belahan dunia yang lain, di dunia Barat, dimana semua modernisasi dimulai dan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Tidak sabar rasanya memulai kelas Senin depan. Meski dengan sedikit (banyak) rasa takut, saya tidak sabar bertukar pikiran dan menyerap ilmu dari orang-orang baru dengan budaya yang tidak saya kenal dan profesi yang mengagumkan.

Namun, excitement ini tidak berhasil mengalahkan kegundahan hati saya berada 16,500 km dari rumah. Dan ini bukan hanya masalah jarak. Ini tentang melangkah keluar dari zona nyaman saya, yang ternyata memang teramat nyaman. Bagaimana tidak? Saya dikelilingi orang-orang yang begitu mengasihi saya dan selalu menegakkan punggung saya ketika dunia saya berputar terlalu kencang, saya juga memiliki pekerjaan stabil yang memberikan saya kemewahan hidup di ibukota – kemana-mana naik taxi/uber, makan hampir selalu di luar, dan hey, seasing-asingnya seseorang, mereka tetap orang Indonesia yang sama-sama makan nasi dan akan memberi bantuan ketika melihat ada orang kesulitan. Tiga hal yang dalam 5 hari saja sudah saya rindukan.

Tidak banyak mahasiswa Indonesia di sini, di Charlottesville. Semua hidup mandiri dan sendiri, layaknya masyarakat negara adidaya. Sempat juga merasa iri melihat teman-teman di kota atau benua lain yang masih sering kumpul. Tidak nyaman, tapi ini konsekuensi yang saya ambil. Toh salah satu yang ingin saya dapatkan selama kuliah adalah kemandirian. Satu hal yang selalu bikin mama gregetan sama saya.

Sebetulnya, ini bukan pertama kali saya tinggal di luar negeri. Pada tahun 2011, saya pernah tinggal selama dua bulan di Argentina. Tapi waktu itu berbeda, bukan karena durasinya, tapi karena status saya saat itu. Ketika itu saya pergi untuk urusan pekerjaan, dimana semua fasilitas adalah fasilitas bisnis – penerbangan terbaik, hotel berbintang (ya, selama dua bulan), sangu hampir $100 sehari, gaji bulanan tetap masuk. Kali ini saya pergi sebagai pelajar dengan beasiswa pemerintah. Semua ditanggung, tapi jangan harap kemewahan. Juga jangan harap uang beasiswa datang tepat waktu. Tidak ada lagi pendapatan stabil dari perusahaan swasta. Saya harus berhemat, sehemat-hematnya. Kata yang juga tidak begitu saya kenal dengan baik.

Betapa terkejutnya saya saat kemarin berbelanja kebutuhan sehari-hari yang hanya terdiri dari ayam, ikan, kentang, susu, mentega, sereal, adonan pancake, panci, piring, pembalut, dan kaus kaki mengharuskan saya membayar $66 atau sekitar Rp 900,000. Saya bayangkan kalau belanja di Superindo Pancoran hanya akan menghabiskan Rp 500,000. Jadi menyesal tidak mendengar Mama untuk bawa alat masak dari Indonesia saja.

Bukan itu saja, grocery store tempat saya berbelanja itu jaraknya 30 menit jalan kaki (mungkin sekitar 2.5 km) dari apartemen saya (tolong jangan bayangkan apartemen mewah di Jakarta). Oh ya, karena saya tidak bisa nyetir dan tidak punya spare uang untuk beli mobil, saya kemana-mana jalan kaki. Taxi? Lupain aja. Jarak 2km aja biayanya $10. Argo kuda kalau kata orang Indonesia. Saya, si anak manja ini, jalan kaki bawa-bawa belanjaan yang lebih berat dari beban latihan TRX. Alhasil perjalanan 30 menit jadi hampir satu jam karena saya harus berhenti setiap beberapa ratus meter. Dalam situasi seperti ini di Indonesia, saya cukup beruntung karena ada saja yang menolong. Tapi tidak di sini. Sesampainya di rumah, saya rasanya enggak sanggup ngapa-ngapain lagi, bahkan membatalkan niat memasak dan langsung tidur saja.

Sebagai seseorang dengan level insecurity dan ke-tidak-pede-an yang cukup mengkhawatirkan, bertemu dengan bangsa yang secara global dikenal lebih maju berlangkah-langkap dari negara saya juga menjadi momok tertentu. Takut salah bicara, takut salah bertindak, takut terlihat bodoh. Kali ini, saya harus menjadi tidak nyaman dan mengambil risiko untuk salah bicara, salah bertindak, dan semoga tidak terlihat begitu bodoh.

Ternyata, keluar dari zona nyaman itu lebih sulit dilakukan dibandingkan diucapkan. Betul-betul tidak nyaman, betul-betul menantang. Doakan saya berhasil melewatinya dengan gemilang!

Charlottesville, 22 Agustus 2016.

Ditulis di sela-sela mengerjakan tugas pertama kuliah (bahkan sebelum kuliah dimulai – hidup pelajar MBA sudah dimulai!)