On changing (2)

Jadi saya memulai blog ini 8 tahun yang lalu. Sejak itu, sudah banyak yang berubah.

Berubah status. Dari mahasiswa, jadi pekerja, lalu sekarang jadi mahasiswa lagi. Dari punya pacar, enggak punya pacar, hampir punya pacar, dan sekarang ngarep punya pacar. Dari abege labil, jadi tante-nya ponakan-ponakan. Masih labil sih.

Berubah keinginan. Dari kepingin kerja di organisasi non-profit, jadi kerja buat perusahaan asing, lalu pindah perusahaan lokal, lalu sekarang kembali ingin kerja di organisasi non-profit. Dari kepingin nikah umur 25, jadi kepingin nikah sebelum umur 30 aja deh biar realistis. Yang ini lebih karena belum dikasih rejeki aja sih sama Yang Maha Kuasa, bukan karena saya-nya sengaja menunda – in case you start judging.

Berubah sifat. Dari anak manja yang minta diantar-jemput kemana-mana, lalu merantau dan pernah tinggal di kosan dengan sewa hanya tiga ratus ribu sebulan (ga pake AC dan kamar mandi di luar), lalu bisa naik transjakarta sendiri, lalu sekarang tinggal sendiri 16,422 km dari rumah – termasuk masak sendiri, beli perabot sendiri, dan benar-benar mengurus diri sendiri. Dari super-bubbly dan melihat segala sesuatu dengan mata berbinar-binar, jadi hmm…realistis cenderung pesimis, meski kadang di saat tertentu dan dengan orang-orang tertentu bubbly-nya masih muncul. Oh, lihat tulisan saya yang ini untuk tahu seberapa bubbly saya dulu. Senang juga melihat saya dulu yang sepertinya (hampir) selalu ceria dan sangat menikmati hidup.

Tapi, yang berubah bukan hanya saya. Belakangan ini banyak sekali perubahan-perubahan kecil dan besar di lingkungan terdekat saya di Indonesia. Adik saya yang akhirnya memutuskan untuk putus dari pacar yang sangat disayang, sahabat saya yang akan segera menjadi ibu, sahabat lain yang akan segera menjadi ayah, sahabat lain yang sedang mempersiapkan perhelatan akbar di akhir tahun, sahabat lain yang akhirnya menemukan wanita yang selama ini kami pikir tidak akan pernah ada di dunia nyata.

Lalu, malam ini saya melihat foto tangga di Galuh, sekretariat Indonesia Mengajar, dengan tagar #kemaskemaskenangan. Akan pindah kantor mungkin? Otomatis segala kenangan di tangga itu merayap dari belakang kepala saya. Saya menulis kalimat ini sambil tersenyum. Tersenyum mengingat kecanggungan saya ketika datang ke Galuh untuk pertama kalinya saat kumpul perdana panitia Kelas Inspirasi 2. Juga tersenyum mengingat satu masa seorang pria diam-diam memperhatikan saya dari tangga tersebut. Juga tersenyum mengingat entah berapa ratus foto dan video dengan latar belakang tangga tersebut. Juga tersenyum mengingat martabak manis yang disantap ketika duduk-duduk sambil ngobrol ngalor ngidul di tangga itu.

Saya tahu perubahan itu konstan. Namun, saking konstannya dan mungkin karena terjadinya dalam unit-unit kecil, jadi tidak terasa. Maka, hal-hal yang besar, hal-hal yang terlihat, seperti pindahnya kantor Indonesia Mengajar, seakan menjadi gong pengingat. Pengingat bahwa mungkin sudah saatnya untuk saya juga berefleksi, melongok perubahan-perubahan kecil apa saja yang sudah terjadi pada saya, mengulas keselarasan nilai-niat-tujuan hidup, dan memikirkan perubahan apa yang mesti saya lakukan dalam diri saya.

Bukan, saya bukan mau bikin resolusi. Sudah cukup sepertinya bikin resolusi yang tidak berubah setiap tahunnya: pacar (2 tahun terakhir ini berubah jadi nikah sih), iman & islam, 48kg, dan coklat. Sepertinya saya perlu sesuatu yang lebih mendasar dari hal-hal tersebut. Hal mendasar yang mungkin akan membawa saya kepada resolusi-resolusi tersebut atau mungkin mengubah resolusi-resolusi tersebut.

Advertisements

On changing

I find it funny that everywhere I go, I actually behave the same way,  strategize the same way (by this I mean I use the same strategy framework to make a strategy), use time the same way, succeed the same way, and fall into the same rabbit hole.

One that made me do things differently once in a while is…the people I go to / do things with. But then, these people are scarce. There are really not many people that’ll go about my way or do things I like/think I like doing. And hey, people come and go whenever and whicever way they like – am guilty for doing that all the time, too. So, can’t really relly on people too (to change).

In that sense…I would never change as a person… Nagea is Nagea. That lazy girl who, ironically, could be irrationally ambitious sometimes and for some reason overanalyzes, lack of confidence, think scatteredly, procrastinate, and still hope that things will be just fine.

And if my traits and personality would never change… Wouldn’t it be rational to change the destination and the things I do/wanna do instead? Enlighten me, s’il vous plait.

Keluar dari zona nyaman

Akhirnya masa ini datang. Masa yang saya idam-idamkan sejak SMA: menjadi pelajar di belahan dunia yang lain, di dunia Barat, dimana semua modernisasi dimulai dan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Tidak sabar rasanya memulai kelas Senin depan. Meski dengan sedikit (banyak) rasa takut, saya tidak sabar bertukar pikiran dan menyerap ilmu dari orang-orang baru dengan budaya yang tidak saya kenal dan profesi yang mengagumkan.

Namun, excitement ini tidak berhasil mengalahkan kegundahan hati saya berada 16,500 km dari rumah. Dan ini bukan hanya masalah jarak. Ini tentang melangkah keluar dari zona nyaman saya, yang ternyata memang teramat nyaman. Bagaimana tidak? Saya dikelilingi orang-orang yang begitu mengasihi saya dan selalu menegakkan punggung saya ketika dunia saya berputar terlalu kencang, saya juga memiliki pekerjaan stabil yang memberikan saya kemewahan hidup di ibukota – kemana-mana naik taxi/uber, makan hampir selalu di luar, dan hey, seasing-asingnya seseorang, mereka tetap orang Indonesia yang sama-sama makan nasi dan akan memberi bantuan ketika melihat ada orang kesulitan. Tiga hal yang dalam 5 hari saja sudah saya rindukan.

Tidak banyak mahasiswa Indonesia di sini, di Charlottesville. Semua hidup mandiri dan sendiri, layaknya masyarakat negara adidaya. Sempat juga merasa iri melihat teman-teman di kota atau benua lain yang masih sering kumpul. Tidak nyaman, tapi ini konsekuensi yang saya ambil. Toh salah satu yang ingin saya dapatkan selama kuliah adalah kemandirian. Satu hal yang selalu bikin mama gregetan sama saya.

Sebetulnya, ini bukan pertama kali saya tinggal di luar negeri. Pada tahun 2011, saya pernah tinggal selama dua bulan di Argentina. Tapi waktu itu berbeda, bukan karena durasinya, tapi karena status saya saat itu. Ketika itu saya pergi untuk urusan pekerjaan, dimana semua fasilitas adalah fasilitas bisnis – penerbangan terbaik, hotel berbintang (ya, selama dua bulan), sangu hampir $100 sehari, gaji bulanan tetap masuk. Kali ini saya pergi sebagai pelajar dengan beasiswa pemerintah. Semua ditanggung, tapi jangan harap kemewahan. Juga jangan harap uang beasiswa datang tepat waktu. Tidak ada lagi pendapatan stabil dari perusahaan swasta. Saya harus berhemat, sehemat-hematnya. Kata yang juga tidak begitu saya kenal dengan baik.

Betapa terkejutnya saya saat kemarin berbelanja kebutuhan sehari-hari yang hanya terdiri dari ayam, ikan, kentang, susu, mentega, sereal, adonan pancake, panci, piring, pembalut, dan kaus kaki mengharuskan saya membayar $66 atau sekitar Rp 900,000. Saya bayangkan kalau belanja di Superindo Pancoran hanya akan menghabiskan Rp 500,000. Jadi menyesal tidak mendengar Mama untuk bawa alat masak dari Indonesia saja.

Bukan itu saja, grocery store tempat saya berbelanja itu jaraknya 30 menit jalan kaki (mungkin sekitar 2.5 km) dari apartemen saya (tolong jangan bayangkan apartemen mewah di Jakarta). Oh ya, karena saya tidak bisa nyetir dan tidak punya spare uang untuk beli mobil, saya kemana-mana jalan kaki. Taxi? Lupain aja. Jarak 2km aja biayanya $10. Argo kuda kalau kata orang Indonesia. Saya, si anak manja ini, jalan kaki bawa-bawa belanjaan yang lebih berat dari beban latihan TRX. Alhasil perjalanan 30 menit jadi hampir satu jam karena saya harus berhenti setiap beberapa ratus meter. Dalam situasi seperti ini di Indonesia, saya cukup beruntung karena ada saja yang menolong. Tapi tidak di sini. Sesampainya di rumah, saya rasanya enggak sanggup ngapa-ngapain lagi, bahkan membatalkan niat memasak dan langsung tidur saja.

Sebagai seseorang dengan level insecurity dan ke-tidak-pede-an yang cukup mengkhawatirkan, bertemu dengan bangsa yang secara global dikenal lebih maju berlangkah-langkap dari negara saya juga menjadi momok tertentu. Takut salah bicara, takut salah bertindak, takut terlihat bodoh. Kali ini, saya harus menjadi tidak nyaman dan mengambil risiko untuk salah bicara, salah bertindak, dan semoga tidak terlihat begitu bodoh.

Ternyata, keluar dari zona nyaman itu lebih sulit dilakukan dibandingkan diucapkan. Betul-betul tidak nyaman, betul-betul menantang. Doakan saya berhasil melewatinya dengan gemilang!

Charlottesville, 22 Agustus 2016.

Ditulis di sela-sela mengerjakan tugas pertama kuliah (bahkan sebelum kuliah dimulai – hidup pelajar MBA sudah dimulai!)

 

 

Bukan Menanti (repost from my other blog)

 

Sayang, saya tahu kamu sedang berjalan kemari. Mungkin sambil menikmati wangi hujan yang baru saja reda.

Saya tahu kamu sedang mencari-cari papan petunjuk arah. Mungkin sambil mengagumi cantiknya kota.

Saya tahu kamu akan segera sampai. Mungkin sambil membawa sekantong ubi hangat.

Dan, Sayang, saya juga sedang berjalan, Sambil bersenandung lagu riang, meresapi semilir angin, dan dengan sebotol limun dingin di tangan saya.

— bumped into this outdated post from my other blog (that holds greater insecurity, mostly on romantic relationship). I can’t remember how I ended up writing these. I can’t even believe my choice of words. Sekantong ubi hangat?? Hahaha. But well, I do like ubi THAT much.

Taci at Carrefour – 100 Days of Happiness and Gratitude – Day #70

It was an extremely exhausting day today.

  • Had the usual pain of first day of the period: cramp, sore around my back, leg, and arm, and anemia.
  • Announcing that the team overall reached February target, I reach target (in overall numbers), but two of my channels don’t  (means, I actually didn’t set my target right and actually didn’t reach my target in grooming and managing my people).
  • Setting the new target for the channels (yes, target setting is crazy exhausting!).
  • Sharing session with the non-performing team.
  • Sharing session with my lifeline in the team, who is rotating to other team and is not being replaced with a person at her level – no, not even close.
  • Being mandated a new channel to handle but is losing people. It’s kind of more complicated than that, but my brain has stopped working and decided to not giving a damn of what I am writing.
  • Waiting in pain for my mom’s health condition update – this is mentally exhausting, I almost wiped five times today because of this.

Thanks thanks thanks God my mother is fine and had only minor infection in her digestive. The doctor told her to control her diet for good because bad diet can really be harmful for her digestive system – good that she heard it from the doctor.

Also, I went grocery shopping with my brother today – using his 100K Carrefour voucher! YEAY! Me love vouchers (Yes, I have become that person who value free valuable stuffs hehe)! Besides, I love grocery shopping with my brother cause it is something that we do with our mom. However, I was so exhausted that I sighed multiple times and barely smile.

Until I went picking some eggs (my brother loves scrambled eggs). I was about to pick them bare-handed when a senior Taci (address for senior woman with Indonesian-Chinese ethnicity) suddenly stopped me and said, “Hey, use this (plastic bag) as a glove, don’t pick the eggs bare-handed. It is very dirty,” while handing me her used plastic bag.

Although I am not a big fan of plastic bag exploitation, the fact that a stranger actually cared about me and bothered admonishing me for this very little thing is extremely heart-warming. In this world of ignorance and solitude, there are still people that cares that much. This might sound crazy, but I felt loved. And I think that is the feeling that everyone must bring to other people – whichever way we chose to bring that feeling.

What this Taci did somehow also reminded me of few of the dearest persons in my life who would do exactly the same thing with her. Caring and loving through the little things. Afterall, it is probably the little things that make our life matter.

Good night, everyone.

 

 

Recess

Halo. It’s me again. Moaning.

Kamu pernah gak ngerasa capek dengan semua yang dikerjain, semua yang dikejar bertahun-tahun, semua yang ingin dibuktikan? Rasanya ingin lepas dari segala kepentingan yang setelah dipikir-pikir ga penting-penting amat.

Kalau kata temanku, “You overthink things. Don’t think. Just do it.” But dude..I am no running shoes.

Kalau kata ustadz dari kajian semalam, “Luruskan niat. Lakukan semua karena Allah, maka hatimu akan tenang.” I am going that direction, sadly I am still so far far far from that destination.

Ingin istirahat tanpa beban pikiran. I need my recess.

That very song…

Halo! Been a long long time since I write here. SO MANY stories to tell, but lately writing has become a big burden and I have become very resistant to think and reflect…simply because it kinda hurt to remember most of the stories.

It’s also been a while since I listen to music. Thanks to broken iPhone, broken iPod shuffle, and overwhelming life situation.

Yet, somehow today I really wanted to listen some easy tunes that I used to really like. A song from one of my favorite male singers: Tulus. Have always loved his music and his poem. I might be biased for the music part cause my cousin is actually Tulus’ music producer. But the poem…is always lovely. I even follow  his tumblr: palawija.tumblr.com.

Back to the easy tunes I wanted to hear. It was one of his song that he never released for God knows what reason. A pretty song that tells how awkward falling in love could be. Well, at least for a person like me.

In case you are kepo: no, I am not in love with anyone right now (In fact, it’s been a while since I actually love anyone). It’s just – for a thinker like me – feelings and emotions linger… And whenever I hear this song, I can always relate back to that beautiful fluffy (yet so sucky sometimes) emotions and feelings I had when I was in love. And that’s why I think this song is pretty.

So here it is…

Mengagumimu Dari Jauh, by TULUS.

Kisahmu harimu ku tau semua
Tanpa kau berujar aku selami
Gerakmu guraumu kemasan raga
Tanpa kau sadari aku pahami

Biarkanku memelukmu tanpa memelukmu
mengagumimu dari jauh
Aku menjagamu tanpa menjagamu
menyayangimu dari jauh