Dicari: cara meningkatkan konsentrasi saat membaca

Saya pengen cerita dan minta saran nih.

Pas kecil, saat yang paling saya tunggu-tunggu adalah nemenin Mama ke Damar Plaza. Damar Plaza itu pusat perbelanjaan di Padang yang cukup ramai pada zamannya. Saya senang momen tersebut bukan hanya karena bisa lihat-lihat Mama pilih bedak, tapi juga karena di seberangnya ada tempat favorit saya, Gramedia.

Jadi pas kecil saya suka banget baca. Majalah Bobo, novel Harry Potter, billboard di jalan, plat mobil, segala saya bacain. Kalau udah di Gramedia saya suka bingung sendiri soalnya semua pengen dibeli. Ujung-ujungnya janjian sama adek. Adek beli komik Conan, saya beli novel. Curang sih, soalnya si adek gak suka baca novel saya. Kecil-kecil udah manipulatif ya saya.

Lalu, entah sejak kapan, saya jadi kesulitan berkonsentrasi saat membaca. Baru beberapa paragraf, pikiran saya sudah melayang ke tempat lain. Kadang-kadang bahkan satu kalimat tidak bisa terproses di otak saya. Seperti hanya membaca kata, tanpa ada makna. Aneh banget.  Kadang saya berpikir, jangan-jangan saya disleksia. Ada tes-nya gak sih ini?Anyways, karena saya anaknya cukup ambisius dan ga mau kalah sama orang, saya maksain diri untuk tetap baca buku. 1 buku selesainya bisa berbulan-bulan. Kadang-kadang tidak selesai.

Anehnya, saya tetap suka ke toko buku. Dan saya tetap suka membeli buku. Alhasil, saya punya bertumpuk buku yang tidak pernah saya selesaikan ataupun belum sempat saya baca. Anehnya juga, saya memilih sekolah yang mengharuskan saya untuk banyak sekali membaca. Bukan hanya sekedar membaca, tapi membaca aktif. Dimana saya harus berpikir dan membuat argumen terhadap apa yang saya baca.

Jadi, kalau kalian tahu cara meningkatkan konsentrasi membaca, atau tahu kira-kira saya kenapa, please¬†bagi-bagi sama saya yah. Nanti saya bagi cinta deh in return. I have plenty. ūüėČ

On changing (2)

Jadi saya memulai blog ini 8 tahun yang lalu. Sejak itu, sudah banyak yang berubah.

Berubah status. Dari mahasiswa, jadi pekerja, lalu sekarang jadi mahasiswa lagi. Dari punya pacar, enggak punya pacar, hampir punya pacar, dan sekarang ngarep punya pacar. Dari abege labil, jadi tante-nya ponakan-ponakan. Masih labil sih.

Berubah keinginan. Dari kepingin kerja di organisasi non-profit, jadi kerja buat perusahaan asing, lalu pindah perusahaan lokal, lalu sekarang kembali ingin kerja di organisasi non-profit. Dari kepingin nikah umur 25, jadi kepingin nikah sebelum umur 30 aja deh biar realistis. Yang ini lebih karena belum dikasih rejeki aja sih sama Yang Maha Kuasa, bukan karena saya-nya sengaja menunda – in case you start judging.

Berubah sifat. Dari anak manja yang minta diantar-jemput kemana-mana, lalu merantau dan pernah tinggal di kosan dengan sewa hanya tiga ratus ribu sebulan (ga pake AC dan kamar mandi di luar), lalu bisa naik transjakarta sendiri, lalu sekarang tinggal sendiri 16,422¬†km dari rumah – termasuk masak sendiri, beli perabot sendiri, dan benar-benar mengurus diri sendiri. Dari super-bubbly dan melihat segala sesuatu dengan mata berbinar-binar, jadi hmm…realistis cenderung pesimis, meski kadang di saat tertentu dan dengan orang-orang tertentu bubbly-nya masih muncul.¬†Oh, lihat tulisan saya yang ini untuk tahu seberapa bubbly saya dulu. Senang juga melihat saya dulu yang sepertinya (hampir) selalu ceria dan sangat menikmati hidup.

Tapi, yang berubah bukan hanya saya. Belakangan ini banyak sekali perubahan-perubahan kecil dan besar di lingkungan terdekat saya di Indonesia. Adik saya yang akhirnya memutuskan untuk putus dari pacar yang sangat disayang, sahabat saya yang akan segera menjadi ibu, sahabat lain yang akan segera menjadi ayah, sahabat lain yang sedang mempersiapkan perhelatan akbar di akhir tahun, sahabat lain yang akhirnya menemukan wanita yang selama ini kami pikir tidak akan pernah ada di dunia nyata.

Lalu, malam ini saya melihat foto tangga di Galuh, sekretariat Indonesia Mengajar, dengan tagar #kemaskemaskenangan. Akan pindah kantor mungkin? Otomatis segala kenangan di tangga itu merayap dari belakang kepala saya. Saya menulis kalimat ini sambil tersenyum. Tersenyum mengingat kecanggungan saya ketika datang ke Galuh untuk pertama kalinya saat kumpul perdana panitia Kelas Inspirasi 2. Juga tersenyum mengingat satu masa seorang pria diam-diam memperhatikan saya dari tangga tersebut. Juga tersenyum mengingat entah berapa ratus foto dan video dengan latar belakang tangga tersebut. Juga tersenyum mengingat martabak manis yang disantap ketika duduk-duduk sambil ngobrol ngalor ngidul di tangga itu.

Saya tahu perubahan itu konstan. Namun, saking konstannya dan mungkin karena terjadinya dalam unit-unit kecil, jadi tidak terasa. Maka, hal-hal yang besar, hal-hal yang terlihat, seperti pindahnya kantor Indonesia Mengajar, seakan menjadi gong pengingat. Pengingat bahwa mungkin sudah saatnya untuk saya juga berefleksi, melongok perubahan-perubahan kecil apa saja yang sudah terjadi pada saya, mengulas keselarasan nilai-niat-tujuan hidup, dan memikirkan perubahan apa yang mesti saya lakukan dalam diri saya.

Bukan, saya bukan mau bikin resolusi. Sudah cukup sepertinya bikin resolusi yang tidak berubah setiap tahunnya: pacar (2 tahun terakhir ini berubah jadi nikah sih), iman & islam, 48kg, dan coklat. Sepertinya saya perlu sesuatu yang lebih mendasar dari hal-hal tersebut. Hal mendasar yang mungkin akan membawa saya kepada resolusi-resolusi tersebut atau mungkin mengubah resolusi-resolusi tersebut.

On changing

I find it funny that everywhere I go, I actually behave the same way,  strategize the same way (by this I mean I use the same strategy framework to make a strategy), use time the same way, succeed the same way, and fall into the same rabbit hole.

One that made me do things differently once in a while is…the people I go to / do things with. But then, these people are scarce. There are really not many people that’ll go about my way or do things I like/think I like doing. And hey, people come and go whenever and whicever way they like – am guilty for doing that all the time, too. So, can’t really relly on people too (to change).

In that sense…I would never change as a person… Nagea is Nagea. That lazy girl who, ironically, could be irrationally ambitious sometimes and for some reason overanalyzes, lack of confidence, think scatteredly, procrastinate, and still hope that things will be just fine.

And if my traits and personality would never change… Wouldn’t it be rational to change the destination and the things I do/wanna do instead? Enlighten me, s’il vous plait.

Keluar dari zona nyaman

Akhirnya masa ini datang. Masa yang saya idam-idamkan sejak SMA: menjadi pelajar di belahan dunia yang lain, di dunia Barat, dimana semua modernisasi dimulai dan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Tidak sabar rasanya memulai kelas Senin depan. Meski dengan sedikit (banyak) rasa takut, saya tidak sabar bertukar pikiran dan menyerap ilmu dari orang-orang baru dengan budaya yang tidak saya kenal dan profesi yang mengagumkan.

Namun, excitement ini tidak berhasil mengalahkan kegundahan hati saya berada 16,500 km dari rumah. Dan ini bukan hanya masalah jarak. Ini tentang melangkah keluar dari zona nyaman saya, yang ternyata memang teramat nyaman. Bagaimana tidak? Saya dikelilingi orang-orang yang begitu mengasihi saya dan selalu menegakkan punggung saya ketika dunia saya berputar terlalu kencang, saya juga memiliki pekerjaan stabil yang memberikan saya kemewahan hidup di ibukota Рkemana-mana naik taxi/uber, makan hampir selalu di luar, dan hey, seasing-asingnya seseorang, mereka tetap orang Indonesia yang sama-sama makan nasi dan akan memberi bantuan ketika melihat ada orang kesulitan. Tiga hal yang dalam 5 hari saja sudah saya rindukan.

Tidak banyak mahasiswa Indonesia di sini, di Charlottesville. Semua hidup mandiri dan sendiri, layaknya masyarakat negara adidaya. Sempat juga merasa iri melihat teman-teman di kota atau benua lain yang masih sering kumpul. Tidak nyaman, tapi ini konsekuensi yang saya ambil. Toh salah satu yang ingin saya dapatkan selama kuliah adalah kemandirian. Satu hal yang selalu bikin mama gregetan sama saya.

Sebetulnya, ini bukan pertama kali saya tinggal di luar negeri. Pada tahun 2011, saya pernah tinggal selama dua bulan di Argentina. Tapi waktu itu berbeda, bukan karena durasinya, tapi karena status saya saat itu. Ketika itu saya pergi untuk urusan pekerjaan, dimana semua fasilitas adalah fasilitas bisnis Рpenerbangan terbaik, hotel berbintang (ya, selama dua bulan), sangu hampir $100 sehari, gaji bulanan tetap masuk. Kali ini saya pergi sebagai pelajar dengan beasiswa pemerintah. Semua ditanggung, tapi jangan harap kemewahan. Juga jangan harap uang beasiswa datang tepat waktu. Tidak ada lagi pendapatan stabil dari perusahaan swasta. Saya harus berhemat, sehemat-hematnya. Kata yang juga tidak begitu saya kenal dengan baik.

Betapa terkejutnya saya saat kemarin berbelanja kebutuhan sehari-hari yang hanya terdiri dari ayam, ikan, kentang, susu, mentega, sereal, adonan pancake, panci, piring, pembalut, dan kaus kaki mengharuskan saya membayar $66 atau sekitar Rp 900,000. Saya bayangkan kalau belanja di Superindo Pancoran hanya akan menghabiskan Rp 500,000. Jadi menyesal tidak mendengar Mama untuk bawa alat masak dari Indonesia saja.

Bukan itu saja, grocery store tempat saya berbelanja itu jaraknya 30 menit jalan kaki (mungkin sekitar 2.5 km) dari apartemen saya (tolong jangan bayangkan apartemen mewah di Jakarta). Oh ya, karena saya tidak bisa nyetir dan tidak punya spare uang untuk beli mobil, saya kemana-mana jalan kaki. Taxi? Lupain aja. Jarak 2km aja biayanya $10. Argo kuda kalau kata orang Indonesia. Saya, si anak manja ini, jalan kaki bawa-bawa belanjaan yang lebih berat dari beban latihan TRX. Alhasil perjalanan 30 menit jadi hampir satu jam karena saya harus berhenti setiap beberapa ratus meter. Dalam situasi seperti ini di Indonesia, saya cukup beruntung karena ada saja yang menolong. Tapi tidak di sini. Sesampainya di rumah, saya rasanya enggak sanggup ngapa-ngapain lagi, bahkan membatalkan niat memasak dan langsung tidur saja.

Sebagai seseorang dengan level insecurity dan ke-tidak-pede-an yang cukup mengkhawatirkan, bertemu dengan bangsa yang secara global dikenal lebih maju berlangkah-langkap dari negara saya juga menjadi momok tertentu. Takut salah bicara, takut salah bertindak, takut terlihat bodoh. Kali ini, saya harus menjadi tidak nyaman dan mengambil risiko untuk salah bicara, salah bertindak, dan semoga tidak terlihat begitu bodoh.

Ternyata, keluar dari zona nyaman itu lebih sulit dilakukan dibandingkan diucapkan. Betul-betul tidak nyaman, betul-betul menantang. Doakan saya berhasil melewatinya dengan gemilang!

Charlottesville, 22 Agustus 2016.

Ditulis di sela-sela mengerjakan tugas pertama kuliah (bahkan sebelum kuliah dimulai Рhidup pelajar MBA sudah dimulai!)

 

 

Bukan Menanti (repost from my other blog)

 

Sayang, saya tahu kamu sedang berjalan kemari. Mungkin sambil menikmati wangi hujan yang baru saja reda.

Saya tahu kamu sedang mencari-cari papan petunjuk arah. Mungkin sambil mengagumi cantiknya kota.

Saya tahu kamu akan segera sampai. Mungkin sambil membawa sekantong ubi hangat.

Dan, Sayang, saya juga sedang berjalan, Sambil bersenandung lagu riang, meresapi semilir angin, dan dengan sebotol limun dingin di tangan saya.

— bumped into this outdated post from my other blog (that holds greater¬†insecurity, mostly on romantic relationship). I can’t remember how I ended up writing these. I can’t even believe my choice of words. Sekantong ubi hangat?? Hahaha. But well, I do like ubi THAT much.

Taci at Carrefour – 100 Days of Happiness and Gratitude – Day #70

It was an extremely exhausting day today.

  • Had the usual pain of first day of the period: cramp,¬†sore around my back, leg, and arm, and anemia.
  • Announcing that the team overall reached February target, I reach target (in overall numbers), but two of my channels don’t ¬†(means, I actually didn’t set my target right and actually didn’t reach my target in grooming and managing my people).
  • Setting the new target for the channels (yes, target setting is crazy exhausting!).
  • Sharing session with the non-performing team.
  • Sharing session with my¬†lifeline in the team, who is rotating to other team and is not being replaced with a person at her level – no, not even close.
  • Being mandated a new channel to handle but is losing people. It’s kind of more complicated than that, but my brain has stopped working and decided to not giving a damn of what I am writing.
  • Waiting in pain for my mom’s health condition update¬†– this is mentally exhausting, I almost wiped five times today because of this.

Thanks thanks thanks God my mother is fine and had only minor infection in her digestive. The doctor told her to control her diet for good because bad diet can really be harmful for her digestive system Рgood that she heard it from the doctor.

Also, I went grocery shopping with my brother today – using his 100K Carrefour voucher! YEAY! Me love vouchers (Yes, I have become that person who value free valuable stuffs hehe)! Besides, I love grocery shopping with my brother cause it is something that we do with our mom. However, I was so exhausted that I sighed multiple times and barely smile.

Until I went picking some eggs (my brother loves scrambled eggs). I was about to pick them bare-handed when a senior Taci (address for senior woman with Indonesian-Chinese ethnicity) suddenly stopped me and said, “Hey, use this (plastic bag) as a glove, don’t pick the eggs bare-handed. It is very dirty,” while handing me her used plastic bag.

Although I am not a big fan of plastic bag exploitation, the fact that a stranger actually cared about me and bothered admonishing me for this very little thing is extremely heart-warming. In this world of ignorance and solitude, there are still people that cares that much. This might sound crazy, but I felt loved. And I think that is the feeling that everyone must bring to other people – whichever way we chose to bring that feeling.

What this Taci did somehow also reminded me of few of the dearest persons in my life who would do exactly the same thing with her. Caring and loving through the little things. Afterall, it is probably the little things that make our life matter.

Good night, everyone.